Menumbuhkan Gerakan Pendidikan Kewirausahaan

Oleh

Ferry T. Indratno

Anak-anak SDK Kloangpopot Doreng kabupaten Sikka berlatih menanam, memetik, dan memasak

Siapa menduga konglomerat dari Meksiko, Carlos Slim, orang terkaya di dunia yang menurut majalah Forbes telah menggeser kedudukan Bill Gates dan Warren Buffet, ternyata sudah mencari uang sejak usia 10 tahun. Tiger Wood pun, pegolf  juara dunia mulai memegang golf sejak usia 3 tahun. Sedangkan Ir. Ciputra telah memulai berwirausaha pada usia menjelang remaja.

Anak-anak SD Katolik Kloangpopot Doreng, kabupaten Sikka, NTT, Belajar berwirausaha

               Bagi umumnya orang Indonesia, memulai usaha dan menciptakan lapangan kerja sejak dini bukanlah merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan. Penyebabnya, menurut Agung B. Waluyo, Manajer Pendidikan Universitas Ciputra Entrepreneurship Center, dipengaruhi oleh dua hal, pertama, selama 350 tahun masa penjajahan sebagian besar rakyat Indonesia tidak mendapat pendidikan yang seharusnya, kedua, pendidikan kita memiliki orientasi membentuk SDM Pencari Kerja bukan Pencipta kerja.

      Mind set  sebagai pencari kerja semakin meningkatkan tingginya penggangguran di Indonesia. BPS mencatat sampai Februari 2008 jumlah sarjana mengganggur sudah mencapai 1,1 juta orang. Padahal menurut penelitian setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen hanya mampu menciptakan sekitar 265.000 lapangan kerja baru. Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkisar antara 6 persen, maka hanya tersedia sekitar 1.590.000 lapangan kerja baru. Lulusan sarjana setiap tahunnya lebih dari 300.000 orang.

Akibatnya, banyak terjadi pengangguran terdidik. Cerita-ceita ironis bisa didengatr, ada sarjana nuklir yang berjualan es krim atau insinyur pesawat terbang menjadi pemulung. Bahkan penelitian Prof. Payaman J. Simanjuntak dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, menyebutkan 3 dari 10 tukang ojek di Jakarta adalah sarjana.

Minimnya Entrepreneur

Entrepreneur berasal dari bahasa Prancis yang berarti kontraktor. Asal katanya adalah entrepenant yang berarti giat, mau berusaha, berani, dan penuh petualangan. Di Indonesia sendiri,  entrepreneur diterjemahkan sebagai enterprenir, pengsaha, dan usahawan. Di lingkungan pemerintahan,  digunakan istilah wirausaha.

Tingginya pengangguran dan rendahnya kesejahteraan di Indonesia dipengaruhi oleh kecilnya jumlah enterpreneur.  Menurut David McClelland, suatu negara akan menjadi makmur apabila memiliki entrepreneur sedikitnya sebanyak 2 persen dari jumlah penduduk. Singapura, menurut Global Entrepreneurship Monitor (GEM) tahun 2005, memiliki sebanyak 7,2 persen, sedangkan Amerika Serikat, tahun 2007 memiliki 11,5 persen entrepreneur. Indonesia diperkirakan hanya 400.000 orang  yang tercatat  menjadi pelaku usaha yang mandiri, atau sekitar 0.18 persen dari populasi. Dengan jumlah penduduk sebesar 220 juta, Indonesia membutuhkan 4,4 juta entrepreneur.

Bagaimana menghasilkan wirausaha sebanyak itu? Menurut Ir. Ciputra, sosok entrepreneur adalah seorang yang mampu mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas.. Namun kita orang Indonesia tidak perlu memulai dari kotoran dan rongsokan. Indonesia dianugerahi dengan kelimpahan potensi sumber daya alam seperti energi, aneka komoditas, dan bahan-bahan tambang yang luar biasa. Tapi produk-produk itu kurang mendapat sentuhan enterpreneursip sehingga tidak menghasilkan nilai tambah yang tinggi.

Saat ini generasi muda kita tidak dibesarkan dalam budaya wirausaha. Untuk menghasilkan wirausaha yang handal paling tidak dibutuhkan 3 L yang menentukan, yaitu: Lahir, Lingkungan dan Latihan. Lahir, seseorang yang lahir dari keluarga wirausaha, sehingga ia mendapat atmosfer entrepreneursip dalam waktu jangka panjang. Ibarat ia sudah lahir di tengah-tengah tumpukan barang dagangan. Lingkungan, seseorang berada dalam lingkungan entrepreneurship sehingga jiwa wirausahanya muncul, misalnya seorang profesional yang bekerja bertahun-tahun dengan seorang wirausaha. Latihan, atau pendidikan, upaya yang secara sadar dan terstruktur dilakukan untuk membangun mind set wirausaha.

Solusi: Pendidikan Entrepreneurship

Pendidikan Kewirausahaan seringkali dikaitkan dengan kegiatan dagang atau jual beli. Sehingga guru dan kalangan pendidikan ragu-ragu memasukkan unsur wirausaha dalam materi pelajaran. Hal itu kurang tepat karena enterpreneurship bukan sekedar berdagang untuk menghasilkan keuntungan, namun tujuan utama mengubah mind set, sehingga bisa dikondisikan (by design) melalui pendidikan sejak usia dini.

Melalui pendidikan, seseorang didorong untuk mencari dan menciptakan peluang yang bernilai bagi masyarakat, ia ditumbuhkan menjadi seorang inovator yang menemukan solusi bagi masyarakat, dan seorang sosok yang berani mengambil resiko secara terukur. Entrepreneur yang sukses tidak mulai dengan berdagang untuk mendapatkan keuntungan finansial, namun mencari inovasi kreatif bagi masyarakat. Keuntungan finansial adalah produk dari kreativitas.

Dalam pendidikan entrepreneurship siswa tidak sekedar didorong menjadi Business Entrepreneur, namun juga menjadi Government Entrepreneur, semacam Lee Kuan Yew, seorang leader yang menumbuhkan Singapura, atau Sukarno sang Pembebas Indonesia,  Academic Entrepreneur, seperti Nicholas Negroponte penggagas One Chils One Laptop dari MIT Amerika Serikat, dan Social Entrepreneur, yang menghimpun dana demi kesejahteraan bersama, semacam Muhamad Yunus, Bunda Teresa atau Romo Y.B Mangunwijaya. Bagaimana mengimplementasi Quantum Leap Entrepreneurship? Ciputra menawarkan 3 gagasan. Pertama, untuk pendidikan usia dini, dasar dan menengah, perlu mengintegrasikan nilai-nilai entrepreneurship di dalam kurikulum nasional. Kedua, untuk perguruan tinggi, menciptakan dan mengembangkan pusat-pusat kewirausahaan (entrepreneurship center). Ketiga, untuk masyarakat, menciptakan gerakan nasional pelatihan kewirausahaan baik oleh pemerintah maupun masyarakat untuk menjangkau masyarakat luas yang berada di luar bangku sekolah.

580 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *